Duhai kanda tercinta, muntahkanlah untaian kata-kata pujamu
Agar bergairah rasa jiwaku yang nyaris layu
Aku adalah rembulan redup yang hendak pulang keperaduan
Sesaat sebelum mataku terpejam
Dan aku tersadar betapa malangnya kehidupanku
Wahai, rimbunnya taman surga ditaman duka
Angkatlah wajahmu dari jurang kenikmatan
Terbanglah…
Bebaskan dirimu dari penjara kejalangan
Niscaya kelamnya malam akan enggan untuk mengurungmu
Nyalakanlah bait-bait sembah sujudmu
Pada apa yang telah menjadi kewajiban di tiap sela hembusan nafasmu
Berlututlah, dengan kepasrahan bukan dengan birahi mu
Tapi, bukankah aku telah hilang ditelan ketabuan?
Engkau tahu bahwa kisah hidupku telah ditulis dengan tinta-tinta nafsu
Layaknya kisah hidup dari kitab-kitab picisan…
Apakah engkau hadapan mempermalukanku dihadapan Penciptaku?
Sesungguhnya…
Wahai indahnya kembang digurun nan tandus
Jiwamu bukanlah debu yang dapat menodai keagungan-Nya
Nafasmu bukanlah racun yang akan membunuh keesaan-Nya
Sadarkah…
Pekatmu bukanlah mendung yang dapat meredupkan sinar-Nya
Pernah engkau menyadari bahwa sesalmu adalah cahaya mata-Nya?
Dan, tangisanmu adalah semerbak senyum di bibir-Nya
Pulanglah…
Pulanglah, duhai dewi gerhana semerbak birahi
Nyalakan dian tuk menerangi gelap langkahmu
Yakinlah…
Ketulusanmu akan membawamu kembali kepada kasih
Melalui liku-liku jalan yang pernah menyesatkanmu
19.11.2004
۩ ۩ ۩


















